BPS JATIM Catat, September 2020 JATIM Deflasi 0,15 Persen

SURABAYA, SMARTFMSURABAYA.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2020 Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,15 persen lebih tinggi dari deflasi bulanan terbesar selama kurun waktu tiga tahun terakhir.

Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Dadang Hardiwan dalam konferensi pers melalui video live virtual di Surabaya, Kamis, (01/10/2020) mengatakan tingkat inflasi tahun kalender Jatim pada September 2020 sebesar 0,74 persen yang juga merupakan inflasi tahun kalender terendah dari tiga tahun terakhir.

“Kota yang mengalami inflasi yaitu Kediri sebesar 0,15 persen”, Kamis, (01/10/2020).

Dirinya mencatat dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di JawaTimur, 1 kota mengalami inflasi yakni Kota Kediri 0,15 persen sedangkan tujuh kota mengalami deflasi. Kota  yang mengalami deflasi  yaitu Probolinggo sebesar 0,35 persen, kemudian diikuti Surabaya 0,18 persen, Banyuwangi 0,17 persen, Kabupaten Sumenep 0,12 persen, Kota Malang 0,05 persen, Madiun 0,02 persen, dan Jember sebesar 0,01 persen.

Dadang menjelaskan Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang  ditunjukkan oleh turunnya sebagian indeks kelompok pengeluaran yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,44  persen, kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen, kelompok transportasi sebesar 0,61 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen menurut Dadang, Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga  angkutan  udara, telur ayam ras, daging ayam ras, tarif kereta api, emas perhiasan, melon, cabai rawit, semangka, jeruk, dan tomat.

Sementara itu untuk kelompok yang mengalami inflasi yakni kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,26 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,09 persen, kemudian kelompok pendidikan sebesar 0,08 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran sebesar 0,05 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar  0,03 persen. Lalu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tidak mengalami perubahan.

“Kelompok lain yang juga ikut andil dalam inflasi adalah pemeliharan rutin rumah tangga, makanan restoran, dan jasa lainnya. Sedangkan biaya air, listrik dan bahan bakar rumah tangga tidak mengalami perubahan”, kata Dadang, Kamis, (01/10/2020).

Menurutnya Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga minyak goreng, bawang putih, cabai merah, udang basah, sawi hijau, panci, air kemasan, hand body lation, apel dan sayur bayam. [lin]

SmartFM Surabaya

SmartFM, sebuah jaringan radio Group of Kompas Gramedia, yang bersegmentasi business dan inspiration

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *