Kontroversi BAFTA 2026: Michael B. Jordan dan Delroy Lindo Jadi Sasaran Ujaran Rasis, Dunia Film Soroti Insiden Memalukan – Ajang penghargaan film bergengsi British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) 2026 seharusnya menjadi malam penuh kemegahan dan apresiasi terhadap karya sinema terbaik. Namun, momen yang seharusnya dirayakan justru ternodai oleh insiden rasisme yang menimpa dua aktor ternama, Michael B. Jordan dan Delroy Lindo. Kedua bintang film Sinners ini menjadi korban ujaran rasis saat membacakan kategori Efek Visual Terbaik, yang dimenangkan oleh Avatar: Fire and Ash. Pelaku insiden tersebut adalah John Davidson, seorang produser eksekutif film I Swear yang diketahui mengidap Sindrom Tourette.
Artikel ini akan membahas secara lengkap kronologi kejadian, dampak sosial budaya, respons dari pihak BAFTA dan BBC, serta refleksi lebih luas mengenai isu rasisme di dunia hiburan.
Kronologi Insiden di BAFTA 2026
- Momen di Panggung: Saat Michael B. Jordan dan Delroy Lindo tampil untuk membacakan nominasi, Davidson berteriak dengan kata-kata rasis, termasuk penggunaan N-word.
- Gangguan Berulang: Davidson tidak hanya menyerang kedua aktor tersebut. Ia juga berteriak kasar kepada Ketua BAFTA, Sara Putt, serta melontarkan kata-kata tidak pantas kepada kreator film Boong saat mereka menerima penghargaan.
- Reaksi Penonton: Banyak tamu undangan yang terperenyak mendengar slot bonus 100 ujaran tersebut. Suasana yang seharusnya penuh apresiasi berubah menjadi tegang dan tidak nyaman.
- Alan Cumming Menenangkan: Sebagai pembawa acara, Alan Cumming berusaha menenangkan audiens dengan menjelaskan bahwa Davidson mengidap Sindrom Tourette, yang menyebabkan tic verbal tak terkendali.
Sindrom Tourette dan Kontroversi
Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan tic motorik dan vokal yang tidak disengaja. Dalam kasus Davidson, ujaran rasis yang keluar dianggap sebagai bagian dari tic tersebut.
Namun, muncul perdebatan:
- Apakah ujaran rasis bisa sepenuhnya dikaitkan dengan Tourette?
- Bagaimana cara membedakan antara tic yang tidak disengaja dengan ujaran yang mencerminkan sikap pribadi?
Pertanyaan ini menimbulkan diskusi luas di media sosial dan komunitas medis. Sebagian pihak menekankan pentingnya memahami Tourette sebagai disabilitas, sementara yang lain menyoroti dampak nyata dari kata-kata rasis terhadap korban.
Dampak Sosial dan Psikologis
Insiden ini menimbulkan luka emosional bagi Michael B. Jordan dan Delroy Lindo. Meski keduanya tetap profesional di atas panggung, pengalaman menjadi sasaran ujaran rasis di forum internasional tentu meninggalkan trauma.
Dampak lebih luas:
- Industri Film: Dunia hiburan kembali diingatkan bahwa rasisme masih menjadi masalah serius.
- Publik: Penonton global merasa kecewa karena acara sebesar BAFTA gagal menjaga suasana inklusif.
- Media: BBC dikritik karena tidak menyensor ujaran rasis dalam siaran tunda, sehingga memperbesar kontroversi.
Respons BAFTA dan BBC
- Permintaan Maaf Resmi: BAFTA mengeluarkan pernyataan tertulis slot depo 10k di Instagram, mengakui bahwa bahasa yang digunakan Davidson sangat menyinggung dan membawa trauma bagi banyak orang.
- BBC Ikut Bertanggung Jawab: BBC meminta maaf karena tidak menyunting hinaan rasial dalam siaran tunda.
- Alan Cumming: Menegaskan bahwa Tourette adalah disabilitas, dan meminta audiens untuk menunjukkan pengertian.
Analisis Isu Rasisme di Dunia Hiburan
Insiden ini bukan kasus pertama rasisme di panggung penghargaan internasional. Beberapa poin penting:
- Rasisme Struktural: Dunia hiburan sering kali masih memandang aktor kulit hitam dengan stereotip tertentu.
- Representasi: Meski semakin banyak aktor kulit hitam yang meraih peran utama, diskriminasi masih terjadi.
- Peran Media: Media memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan konten yang sensitif dan tidak memperkuat ujaran kebencian.
Refleksi dan Pelajaran
- Pentingnya Edukasi Publik: Masyarakat perlu memahami perbedaan antara disabilitas neurologis dan ujaran kebencian.
- Tanggung Jawab Institusi: BAFTA dan BBC harus memperketat protokol keamanan agar insiden serupa tidak terulang.
- Solidaritas Industri: Sesama aktor, sutradara, dan produser perlu menunjukkan dukungan nyata terhadap korban rasisme.
- Perubahan Budaya: Dunia hiburan harus terus mendorong keberagaman dan inklusivitas, bukan sekadar slogan.
Kesimpulan
Insiden rasisme yang menimpa Michael B. Jordan dan Delroy Lindo di BAFTA 2026 menjadi pengingat pahit bahwa diskriminasi rasial masih menghantui dunia hiburan. Meski pelaku diketahui mengidap Sindrom Tourette, dampak dari kata-kata yang dilontarkan tetap menyakitkan dan menimbulkan trauma.
Dengan permintaan maaf dari BAFTA dan BBC, serta diskusi publik yang luas, diharapkan insiden ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap keadilan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap keberagaman
